(Diambil dari buku “Psikologi Beragama” oleh Prof.DR.Komarudin Hidayat)

Menyamakan agama dengan pakaian tentu tidak terlalu tepat, meskipun keduanya memiliki kemiripan. Orang bisa melakukannya dengan mudah saja ketika berganti pakaian, kendaraan, kacamata, sepatu, bahkan berganti nama. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan ganti agama. Saya teringat sebuah ayat Al Qur’an yang berbunyi : “Sebaik-baik pakaian adalah pakaian takwa.” (QS Al-A’raf (7) : 26). Takwa adalah hasil keberagamaan yang benar, sedangkan takwa oleh Allah dinyatakan sebagai sebaik-baik pakaian.

    
     Apa dan mengapa pakaian? Mari kita renung dan bahas sejenak. Apa saja yang menjadi pertimbangan ketika kita mengenakan pakaian? Pertama , untuk menjaga kesehatan. Mereka yang tinggal di daerah dingin sangat sadar akan fungsi pakaian untuk menjaga kesehatan. Kedua, untuk menutup aurat. Fungsi ini mengingatkan kita akan cerita Adam yang terusir dari surga karena memakan buah kuldi. Lalu, Adam menemukan dirinya telanjang dan ia pun merasa malu. Kemudian, ia menutupi auratnya dengan dedaunan. Dan, salah satu aspek yangmembedakan manusia dengan monyet adalah manusia mengenal konsep aurat lalu mengenakan pakaian. Ketiga, orang berpakaian selalu mempertimbangkan aspek estetika atau seni agar indah dipandang. Bahkan, aspek keindahan ini telah membuat harga pakaian belipat ganda ketika mendapat sentuhan perancang atau desainer ternama
     Inilah tiga fungsi utama pakaian yang bisa dianalogikan dengan agama. Seseorang yang beragama mestinya jiwa dan badannya menjadi sehat, kehormatan dirinya terjaga, perilaku serta tutur katanya enak dipandang dan didengar. Kalau tiga hal tadi tidak ditemukan, pasti ada yang salah dengan dirinya atau ukuran pakaiannya yang tidak pas. Begitulah sikap beragama. Ibarat pakaian yang ukurannya pas, mestinya dengan agama seseorang lebih percaya diri, enak bergaul, dan sehat jiwa-raganya. Pendek kata, seseorang haruslah merasa nyaman terhadap dirinya dimana pun ia berada.  
     Tentu masih ada peran lain dari pakaian. Ada orang yang sengaja berdandan hanya untuk pamer. Maka dari itu, jangan heran, beragama pun bisa terkena jebakan pamer atau riya. Ada lagi pakaian yang dirancang untuk berperang. Jadi, bisa saja semangat beragama selalu disertai semangat untuk berantem dan mengalahkan orang lain.
     Dari beragam pakaian yang ada, rasanya fungsi yang primer adalah tiga pertama yang disebutkan tadi. Hemat saya, beragama yang sehat dan benar adalah sikap keberagamaan yang mendatangkan rasa nyaman bagi diri sendiri dan enak dilihat bagi orang lain.
*** 
SERAGAM ITU KURANG MENARIK
     Sulit menerima kenyataan andaikan semua manusia telanjang bagaikan kerbau atau kambing. Akan tetapi, mari kita bayangkan andaikan semua penduduk bumi berpakaian, berbahasa, dan berperilaku seragam. Sungguh kurang menarik kalau dunia flora dan fauna semuanya seragam. Rasanya hidup sungguh membosankan. Jadi apakah pluralitas agama dan budaya itu proses dan produk evolusi alam, atau kehendak Sang Pencipta? Terserah orang mau memandangnya dari teori apa, tetapi kenyataannya memang begitulah adanya. Boleh saja masing-masing misionaris agama berambisi untuk menyeragamkan keyakinan manusia agar terjadi monolitisme agama di muka bumi. Akan tetapi, sepanjang sejarah manusia rasanya keinginan itu adalah sebuah utopia. Bahkan semasa hidup para Nabi, ada saja mereka yang berbeda dan membangkang.
     Dalam dunia Islam pun muncul keragaman, pluralitas, dan warna-warni pemikiran agama, baik dalam ilmu fiqih, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, maupun pemikiran politik Islam. Belum lagi pemahaman, pengalaman, dan praktik pada level individu yang membuat keragamannya semakin kompleks. Ketika orang muslim sama-sama sholat menghadap kiblat, misalnya, suasana batinnya berbeda-beda. Ketika sama-sama berdoa kepada Allah, orang akan memilih pintu yang berbeda-beda dari 99 Asmaul Husna. Dan perlu diingat, angka 99 merupakan simbol dari pertemuan dua angka omega, artinya sifat dan kekuasaan Allah tersebut absolut dan tak terbatas. Orang yang sedang sakit akan lebih senang memanggil nama-Nya sebagai Tuhan Sang Mahadokter (As-Syafy). Mereka yang merasa banyak dosa senang menyeru-Nya sebagai Sang Maha Pengampun (Al-Ghafur). Demikianlah seterusnya.
     Jadi, warna-warni pengalaman dan pemahaman beragama bisa terjadi pada wilayah esoterik (tidak kelihatan dariluar) dan ada yang bersifat eksoterik (terlihat dari luar), misalnya peristiwa perjalanan haji, jumlah rakaat dalam shalat, dan semacamnya. Namun, kita tidak tahu secara pasti suasana batin di balik tindakan ritual keagamaan itu. Wilayah esoterik biasanya dikaitkan dengan pengalaman spiritual yang bersifat individual, sedangkan eksoterik lebih banyak menyangkut urusan prosedur dan formula hukum beragama (fikih).
***
(to be continued)

(Tulisan ini diambil dari buku “PSIKOLOGI BERAGAMA” oleh Prof.DR.Komarudin Hidayat)

Salah seorang pengagum Nelson Mandela suatu saat terlibat perbincangan dengannya. Dia begitu kagum, terutama setelah melihat langsung tempat tahanan Mandela yang ditempatinya selama 14 tahun, dari keseluruhan masa hukuman selama 27 tahun secara berpindah-pindah. Sel tempat Mandela dihukum begitu sempit, bau, tak ada meja kursi, dan konon makanan yang disajikan seringkali sudah basi. Dia bertanya, “Apakah Mandela yang kemudian menjadi Presiden Afrika Selatan dan begitu dikagumi dunia tidak merasa geram dan dendam terhadap musuh-musuh politiknya di masa lalu?”

     Apa jawab Mandela?
     “Kalau aku biarkan dan kupelihara terus kekesalan dan kebencianku kepada para penindas itu, mereka yang pernah menindas dan menyanderaku selama 27 tahun itu akan masih terus menyandera diri dan jiwaku. Aku ingin menjadi orang merdeka. Karena itu aku buang semua kebencian itu sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka”.  
     *  *   *
     Suatu hari, saya datang pada seorang kiai untuk konsultasi agama. Saya bertanya, “Mengapa sesama muslim, bahkan di antaranya adalah tokoh agama, suka mencemooh muslim lain yang berbeda pendapat? Bahkan, ada kalanya mengafirkan serta menuduhnya sebagai ahli neraka?”
     Kiai kampung tadi menjawab dengan datar, “Saya kurang tahu dalil apa yang mereka pakai. Kalau seseorang telah menyatakan dan menerima rukun iman dan rukun Islam, dia tidak berhak disebut kafir. Jadi, saya tidak bisa menjawab mengapa kita mesti mengafirkan sesama muslim serta sibuk mau mengukur kedalaman imannya. Saya sendiri tidak berani menjamin diri saya masuk syurga, terlebih menuduh orang lain. Jadi, maaf, coba saja tanyakan pada mereka yang suka mengukur-ukur ketakwaan orang”.
     *     *    *
     Dalam sebuah riwayat diceritakan, suatu hari Abu Bakar berjalan bersama Rasulullah. Di tengah jalan, tiba-tiba Abu Bakar dihadang oleh seseorang dan dicaci-maki. Abu Bakar merasa tidak kenal dan tidak bersalah sehingga dia diam saja sambil senyum-senyum. Abu Bakar tambah bingung lagi ketika melihat Rasulullah ikut senyum. Setelah orang itu agak lama melemparkan kata-kata cacian, Abu Bakar akhirnya menjawab kelancangan orang tersebut. Ketika Abu Bakar membalas orang tersebut, Rasulullah berhenti tersenyum dan pergi.
     Abu Bakar penasaran akan sikap Rasulullah. Keesokan harinya, Abu Bakar bertanya kepada beliau, “Mengapa Rasulullah tersenyum ketika orang itu mencaci maki say yang tidak bersalah? Mengapa Rasulullah pergi ketika saya menjawab?”
     Rasulullah pun menjawab, “Ketika engkau tersenyum mendengarkan fitnah dan caci maki tadi, engkau menerimanya dengan lapang karena engkau tidak bersalah. Aku pun tersenyum karena melihat malaikat sibuk memindahkan catatan amal kebajikan orang itu ke dalam dirimu, sedangkan catatan kesalahanmu dipindahkan ke orang itu.”
     *    *    *
     Pesan dan pelajaran apa yang bisa diambil dari tiga cerita pendek di atas? Dari kasus Mandela, saya memperoleh pelajaran bahwa kebahagiaan dan kemerdekaan berkait erat dengan sikap batin seseorang. Formula to forgive and forget” terhadap tragedi masa lalu akan mampu mengubah dunia yang semula gelap gulita dan menyakitkan menjadi terang benderang dan optimistik menapaki hari-hari esok. Semua ini kembali pada pribadi masing-masing orang. Akankah memelihara luka derita yang justru kian bertambah ketika diingat-ingat? Akankah mengurangi dan melupakannya, lalu diganti dengan cara pandang baru terhadap kehidupan?
     Dari nasihat kiai tadi, saya belajar untuk hidup dengan berprasangka baik dan rendah hati. Jangan merasa paling beriman dan bertakwa di hadapan orang lain. Saya jadi teringat pada sebuah hadits, berbahagialah mereka yang disibukkan dengan meneliti kesalahan dan kekurangan diri, lalu menutupinya dengan kebajikan, daripada sibuk meneliti dan mengorek-ngorek kelemahan orang lain
     Kisah Abu Bakar mengajarkan kita untuk bersabar. Jika kita merasa benar, tak perlu takut akan kritik, kecaman, dan fitnah orang. Allah Mahatahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Lebih dari itu, mari kita jaga hati dan lisan agar tidak mudah menyakti orang lain karena kita sendiri yang akan rugi.  
     Kisah-kisah kebajikan hidup seperti di atas mudah sekali kita temukan di sekeliling kita. Kalau saja kita mau membuka hati dan telinga, sehingga setiap hari pasti kita akan mendapatkan pembelajaran hidup yang bermakna.
    (to be continued)
belasungkawa.jpg

Turut belasungkawa atas wafatnya Bapak HM.Soeharto, semoga arwahnya diterima di sisi-Nya. Amin..Amin…Amin

Mau lihat peta lokasi Astana Giribangun di Google Maps ? Klik di sini

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.