(Tulisan ini diambil dari buku “PSIKOLOGI BERAGAMA” oleh Prof.DR.Komarudin Hidayat)

Salah seorang pengagum Nelson Mandela suatu saat terlibat perbincangan dengannya. Dia begitu kagum, terutama setelah melihat langsung tempat tahanan Mandela yang ditempatinya selama 14 tahun, dari keseluruhan masa hukuman selama 27 tahun secara berpindah-pindah. Sel tempat Mandela dihukum begitu sempit, bau, tak ada meja kursi, dan konon makanan yang disajikan seringkali sudah basi. Dia bertanya, “Apakah Mandela yang kemudian menjadi Presiden Afrika Selatan dan begitu dikagumi dunia tidak merasa geram dan dendam terhadap musuh-musuh politiknya di masa lalu?”

     Apa jawab Mandela?
     “Kalau aku biarkan dan kupelihara terus kekesalan dan kebencianku kepada para penindas itu, mereka yang pernah menindas dan menyanderaku selama 27 tahun itu akan masih terus menyandera diri dan jiwaku. Aku ingin menjadi orang merdeka. Karena itu aku buang semua kebencian itu sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka”.  
     *  *   *
     Suatu hari, saya datang pada seorang kiai untuk konsultasi agama. Saya bertanya, “Mengapa sesama muslim, bahkan di antaranya adalah tokoh agama, suka mencemooh muslim lain yang berbeda pendapat? Bahkan, ada kalanya mengafirkan serta menuduhnya sebagai ahli neraka?”
     Kiai kampung tadi menjawab dengan datar, “Saya kurang tahu dalil apa yang mereka pakai. Kalau seseorang telah menyatakan dan menerima rukun iman dan rukun Islam, dia tidak berhak disebut kafir. Jadi, saya tidak bisa menjawab mengapa kita mesti mengafirkan sesama muslim serta sibuk mau mengukur kedalaman imannya. Saya sendiri tidak berani menjamin diri saya masuk syurga, terlebih menuduh orang lain. Jadi, maaf, coba saja tanyakan pada mereka yang suka mengukur-ukur ketakwaan orang”.
     *     *    *
     Dalam sebuah riwayat diceritakan, suatu hari Abu Bakar berjalan bersama Rasulullah. Di tengah jalan, tiba-tiba Abu Bakar dihadang oleh seseorang dan dicaci-maki. Abu Bakar merasa tidak kenal dan tidak bersalah sehingga dia diam saja sambil senyum-senyum. Abu Bakar tambah bingung lagi ketika melihat Rasulullah ikut senyum. Setelah orang itu agak lama melemparkan kata-kata cacian, Abu Bakar akhirnya menjawab kelancangan orang tersebut. Ketika Abu Bakar membalas orang tersebut, Rasulullah berhenti tersenyum dan pergi.
     Abu Bakar penasaran akan sikap Rasulullah. Keesokan harinya, Abu Bakar bertanya kepada beliau, “Mengapa Rasulullah tersenyum ketika orang itu mencaci maki say yang tidak bersalah? Mengapa Rasulullah pergi ketika saya menjawab?”
     Rasulullah pun menjawab, “Ketika engkau tersenyum mendengarkan fitnah dan caci maki tadi, engkau menerimanya dengan lapang karena engkau tidak bersalah. Aku pun tersenyum karena melihat malaikat sibuk memindahkan catatan amal kebajikan orang itu ke dalam dirimu, sedangkan catatan kesalahanmu dipindahkan ke orang itu.”
     *    *    *
     Pesan dan pelajaran apa yang bisa diambil dari tiga cerita pendek di atas? Dari kasus Mandela, saya memperoleh pelajaran bahwa kebahagiaan dan kemerdekaan berkait erat dengan sikap batin seseorang. Formula to forgive and forget” terhadap tragedi masa lalu akan mampu mengubah dunia yang semula gelap gulita dan menyakitkan menjadi terang benderang dan optimistik menapaki hari-hari esok. Semua ini kembali pada pribadi masing-masing orang. Akankah memelihara luka derita yang justru kian bertambah ketika diingat-ingat? Akankah mengurangi dan melupakannya, lalu diganti dengan cara pandang baru terhadap kehidupan?
     Dari nasihat kiai tadi, saya belajar untuk hidup dengan berprasangka baik dan rendah hati. Jangan merasa paling beriman dan bertakwa di hadapan orang lain. Saya jadi teringat pada sebuah hadits, berbahagialah mereka yang disibukkan dengan meneliti kesalahan dan kekurangan diri, lalu menutupinya dengan kebajikan, daripada sibuk meneliti dan mengorek-ngorek kelemahan orang lain
     Kisah Abu Bakar mengajarkan kita untuk bersabar. Jika kita merasa benar, tak perlu takut akan kritik, kecaman, dan fitnah orang. Allah Mahatahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Lebih dari itu, mari kita jaga hati dan lisan agar tidak mudah menyakti orang lain karena kita sendiri yang akan rugi.  
     Kisah-kisah kebajikan hidup seperti di atas mudah sekali kita temukan di sekeliling kita. Kalau saja kita mau membuka hati dan telinga, sehingga setiap hari pasti kita akan mendapatkan pembelajaran hidup yang bermakna.
    (to be continued)